BERITA TERKINILAMPUNGLampung Timur

1 Tahun Ditinggalkan Suami,Wariem Pemulung Asal Desa Gunung Pasir Jaya,Harus Menahan Malu Demi Anak Dan Cucunya…

Barang bekas (ronsokan) yang dikumpulkan oleh wariem pemulung asal Dusun 06 Rt 03 Desa Gunung pasir Jaya kecamatan sekampung udik…
[su_animate][su_highlight background=”#cf141c”]Penalampungnews.com[/su_highlight][/su_animate]

Lampung Timur –

Gelak tawa dan suka ria dalam acara Seminar Daerah Human Rigths Youth Camp,dan Napak Tilas Purbakala yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten lampung. Seminar Daerah Humam Rigths Youth Camp adalah menjelaskan untuk Generasi Muda Lampung Timur Sadar Hak Asazi Manusia (HAM), Sedangkan Napak Tilas mengingat sejarah dan yang pasti bersuka ria dengan berbagi hadiah yang di selenggarakan di Taman Purbakala, Kecamatan Sekampung Udik selama dua hari berturut-turut, jum’at dan sabtu 27-28 Oktober 2017.

Dalam kegiatan tersebut para petinggi daerah tak pernah terbersit dalam benak mereka dan bahkan mungkin tak merlihat jika pada saat itu ada beberapa pemulung yang berkeliaran mengumpulkan sampah-sampah dari sisa makanan dan minuman orang-orang yang berada diacara tersebut.

Terlihat jelas seorang perempuan tua, yang bernama Ibu Wariem bersama satu putri dan satu putra yang menjadi buah hatinya pulang pergi mengitari areal dimana para pejabat dan wakil rakyat yang sedang berbahagia dengan acara-acara serimonial mereka.

Ibu Wariem adalah pemulung asal Dusun 06 Rt 03 Desa Gunung pasir Jaya kecamatan sekampung udik, yang selama satu tahun lebih telah di tinggal suaminya meninggal dunia, untuk memenuhi kebutuhan hidup Ibu Wariem kesehariannya bekerja menjadi pemulung, hal itu dilakukannya karna demi memberi makan anak dan cucunya.

Berita ini dilansir dari suaralampung.com

Saat di kunjungi Suaralampung.com di kediamannya Ibu Wariem bercerita bahwa ia sudah sudah satu tahun di tinggal suaminya yang menjadi tulang punggung keluarga dan sehingga sebagai seorang ibu saya punya tanggung jawab terhadap anak-anaknya dan bahkan berikut ke empat cucunya.

“Suami saya sudah satu tahun lebih pak meninggal dunia makanya saya yang menggantikan posisi suami saya karna kalau saya tidak bekerja siapa yang mau ngasih makan minum anak dan cucu saya, makanya saya bekerja jadi tukang nyari rongsokan bagi saya untuk apa malu dari pada anak cucu saya tidak makan, mau kerja yang lain tidak ada pekerjaan mau tani tidak ada lahan, sedangkan gubuk ini saja saya numpang tanahnya” ujarnya.

Imbuh Ibu wariem “dalam gubuk saya ini ada tiga janda pak, saya sama dua anak saya, kedua anak saya jandanya ya di tinggal begitu saja sama suami mereka dari kedua anak saya mereka memiliki dua orang anak dari satu orangnya, inilah yang saya urus dengan saya menjadi tukang mencari rongsokan, tapi saya bahagia bisa kumpul sama anak cucu walau pun dalam keadaan seperti ini” pungkas wariem.

Hal ini yang seharusnya lebih menjadi perhatian pemerintah Daerah dan para wakil rakyat untuk lebih jeli dalam pengentasan kemiskinan bagi rakyatnya bukan untuk berpoya menghambur-hamburkan anggaran sedangkan masyarakat kecil masih banyak yang untuk makan dan minum harus bekerja sebagai pemulung karna sulitnya lapangan pekerjaan.(Eri)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button