Aspirasi PublikBERITA TERKINIKABIRO PENA LAMPUNGLAMPUNGLampung TimurNasional

Bekerja Sambil Kuliah, Ini Kisah Migran Asal Lampung Timur Selama 8 Tahun di HK

LAMPUNG TIMUR (Pena Lampung) – Tidak pantang menyerah, Wanita Kelahiran Mei 1991 ini bekerja keras demi membantu perekonomian keluarganya dan melanjutkan kuliah di negara Hongkong hingga S1 sehingga dirinya mengantongi gelar Sarjana Sastra (S.S) Inggris dinegara tempat dia bekerja. Selasa (09/02/2021).

Pekerja migran yang mempunyai Nama lengkap Linda Puspita Sari, Lahir didesa Giriklopomulyo, pada tanggal 03 Mei 1991, kecamatan Sekampung, kabupaten Lampung Timur putri kedua dari pasangan suami istri Sumitro dan Suriyah.

Linda berkeinginan seperti anak lulusan SMA lainnya, ia juga mempunyai keinginan untuk bisa melanjutkan Study ke universitas. Namun, keadaan ekonomi keluarga yang tidak mendukung dikarenakan dirinya masih memiliki dua adik laki-laki yang harus melanjutkan sekolah hingga SMA.

Sedangkan, Ibunya hanya bekerja di warung soto pasar Sekampung dan ayahnya pekerja serabutan yang tidak menentu penghasilan nya.

Dirinya pernah ikut jalur beasiswa dari Departemen Agama namun gagal. Akhirnya ia putuskan untuk pergi ke tempat saudara di Jawa mencari kerja. Tapi apa daya, cuma berbekal ijazah SMP wanita kelahiran Mei 1991 buat cari kerja namun tidak dapat karena ijazah SMA masih di sekolah, belum dia tebus.

Setelah satu bulan di Jawa tidak mendapatkan pekerjaan, Gadis yang memiliki nama lengkap Puspita Sari itu pulang dan memutuskan untuk bekerja ke Luar Negri yaitu ke Negara Singapura karena tidak mau membebani keluarga.

Impiannya untuk kuliah juga masih ada, wanita itu berencana pulang dari Singapur bisa lanjut kuliah. Namun, ternyata tetap tidak bisa, karena dia harus membantu orangtuanya untuk membiayai sekolah kedua adik laki-lakinya.

Setelah selesai kontrak kerja di Singapura pada tahun 2012, melihat kondisi perekonomian keluarga yang belum stabil, kedua adiknya juga masih duduk di bangku SMA, akhirnya ia putuskan untuk kembali bekerja ke Luar Negri, namun bukan ke negara Singapura, melainkan ke Negara Hongkong pada bulan Februari 2013.

Satu tahun wanita itu bekerja di Hongkong, dirinya dapat info dari internet tentang Universitas Terbuka Pokjar Hongkong, ia coba menghubungi kepala kelompok belajar (Kopjar), tapi sayangnya ia tidak bisa ikut kuliah karena hari libur yang tidak menentu, sedangkan untuk dapat kuliah di Universitas Terbuka (UT) harus libur hari Minggu.

Linda sempat putus asa saat itu. Namun, setelah kontrak pertama dia selesai 2 tahun bekerja, ia putuskan untuk pindah majikan dan mencari majikan yang bisa libur Minggu serta mengijinkannya untuk sekolah saat libur.

Februari 2015, wanita itu pindah majikan, pada saat itu ia sudah tergabung di Komunitas Penulis Kreatif Hong Kong,”Di komunitas ini saya ketemu dengan seorang teman (pekerja migran) dan ternyata dia juga seorang mahasiswa,”kata Linda

,”Dari situ saya berpikir, jalan menuju impianku untuk kuliah sudah terbuka lagi. Saya berpikir kalau inilah waktunya, doa-doaku untuk lanjut studi terkabul,”ujarnya dengan penuh kebahagiaan

Kak Dhika dan Mak Ninik, begitu Linda memanggilnya. Teman di Komunitas seorang PRT di HK seperti dirinya dan juga mahasiswa di Universitas Terbuka Pokjar HK, Universitas yang pernah ia hubungi waktu itu. Mereka selalu menyemangati bahwa bisa belajar dan bekerja seperti mereka. akhirnya Juli 2016, wanita asal Lampung Timur itu resmi jadi Mahasiswa.

Hal yang dapat ia ambil saat menjadi mahasiswa adalah tekad dan perjuangan. Tanpa tekad yang kuat dan perjuangan yang keras untuk melanjutkan sampai akhir, pasti akan kandas di tengah jalan. Dan benar, belajar itu tak pandang usia dan tempat di mana kita belajar.

ada sebuah ungkapan berbahasa Arab yang artinya, “Tuntutlah ilmu meski ke Negeri China” dan “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”.

Dan di sana Linda dapat merasakan makna dari dua ungkapan itu. Banyak teman-teman kuliahnya yang berusia 40 ke atas, tapi semangat belajar masih membara.

Berkat niat belajar yang gigih, Linda pun pernah mendapatkan beasiswa 3000 Hongkong Dolar (HKD), dan ia masuk dalam 10 besar pada semester ke 2.

Banyak kendala dalam menjalani hidup sebagai mahasiswa dan pekerja migran. Harus mengatur waktu antara pekerjaan dan tugas kuliah. Bekerja dari pukul 6.30 pagi sampai pukul 12 atau 1 malam. sudah perjanjian dari awal, boleh buka buku setelah pekerjaan selesai.

Jadi, pagi sampai tengah malam bekerja dan setelah itu belajar sampai pukul 2 malam. Kalau malam Minggu, kadang sampai pukul 3 atau setengah 4 subuh. karena mengejar deadline tugas kuliah, plus saat itu dirinya juga tergabung sebagai kontributor berita tentang buruh migran di LiputanBMI.com

Karena tidur berdua dengan nenek yang Linda jaga, kadang dirinya belajar di dapur, dengan oven sebagai meja dan sambil berdiri. Ketika dirinya mengantuk langsung kejedot lemari gantung di atas oven, hal itu yang paling berkesan bagi dirinya karena setelah kejedot ngantuknya ilang dan ia bisa lanjut belajar tapi kalau nenek lagi baik, dirinya bisa belajar di atas tempat tidur. dan lagi-lagi sering tertidur di depan laptop dan selalu dibangunkan sama pak bos, katanya “kalau ngantuk tidur aja”.

Beruntung dirinya mendapatkan majikan yang baik dan sudah seperti orangtua kandung, kadang kalau majikan tahu sedang ujian, majikannya orang pertama yang tanya hasil ujian. (*/Eri)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button