Aspirasi PublikBERITA TERKINIKABIRO PENA LAMPUNGLAMPUNGLampung TimurNasionalPENDIDIKAN

Penasaran, Berikut Isi Tulisan Siswi Lamtim Juara 1 Lomba Tingkat Nasional Menulis Cerita Untuk Ibu Kartini

Lampung Timur, penalampungnews.com – Sintya Marwa Dewi, lahir pada 22 Mei 2006 tepatnya didesa Mataram Baru, Kabupaten Lampung Timur yang memiliki cita-cita Public Health dan terjun langsung dalam lingkungan masyarakat serta memiliki moto Pantang menyerah dan semangat adalah kekuatan sihirku.

Gadis cantik yang masih duduk di bangku kelas IX SMP Negeri 1 Bandar Sribhawono, Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung telah meraih juara 1 Tingkat Nasional dalam perlombaan menulis cerita untuk ibu Kartini dalam rangka memperingati hari Kartini pada tanggal 21 April lalu.

Berikut isi tulisan Sintya siswi SMP Negeri 1 Bandar Sribhawono yang menang lomba Cerita Untuk Ibu Kartini 2021 :

Lampung, 15 April 2021

Salam sayang dan cinta,
Bagaimana di sana, Bu? Kuharap Surga adalah tempatmu bernaung bersama disisi-Nya. Hari ini
cerah, angin semilir menerpa halus setiap sudut wajahku yang sedang serius membacamu. Ah,
lebih tepatnya membaca hasil dari buah tanganmu, buku bersampul putih suci yang berjudul,
“Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Baris demi baris, lembar demi lembar kueja perlahan, ia tak pernah gagal menyulut api semangat anak gadismu ini. Sejenak, kulihat bayang raut wajahmu
yang ayu tersenyum manis diantara awan-awan, mengajakku bercerita. Sudah berapa tahun lamanya berlalu sejak dirimu menutup mata dan singgah pada agungnya Sang Rembulan, Bu? Masih kuingat dengan sangat jelas kisah hidupmu yang penuh lika-liku dan
upaya perjuanganmu untuk mencapai kesetaraan gender di Indonesia.

Setiap tantangan dan perjuanganmu kami teruskan hingga saat ini. Aku sangat ingin bercerita langsung denganmu mengenai banyak hal, tentangku, tentang canggih dan majunya dunia saat ini, dan tentang
bagaimana suatu benda bernama pesawat terbang mengangkut puluhan manusia kemudian melintasi angkasa dengan megahnya. Namun, kutahu aku tak akan bisa.

Sebagai gantinya, kutuliskan sepenggal surat istimewa berisi ceritaku ini hanya untuk dirimu.

Bu, apa kau tahu? Zaman telah banyak berubah. Dunia telah mengalami revolusi digital yang berdampak pada maju dan berkembangnya setiap aspek kehidupan. Ilmu pengetahuan, teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi, semuanya menjadi bagian penting bagi manusia. Zaman ini bisa disebut dengan era digital. Sebagai seorang pelajar, hari-hari ku selalu ku isi dengan bermain.

Eh, jangan salah sangka Bu, apa salahnya jika bermain juga merupakan proses belajar?
Hahaha. Sembari bermain, aku juga suka mencari tahu berbagai pengetahuan baru di dunia ini, seperti dirimu dahulu yang juga sangat suka membaca buku. Ketika aku menjumpai hal yang baru, dan tidak pernah aku pelajari sebelumnya, aku menjadi sangat penasaran dan rasa ingin tahuku meningkat, saat itu aku tidak perlu bersusah payah berupaya untuk mencari tahu.
Karena, sekarang kami semua memiliki benda pipih berlayar kaca yang disebut ponsel atau handphone. Biar aku beri tahu kepadamu betapa membantunya ponsel dalam proses belajar para pelajar di dunia, termasuk diriku.

Selain sekolah yang merupakan sarana menuntut ilmu, di era digital ini, semua jenis pengetahuan bisa diakses dan dicari dengan mudah dengan teknologi
komunikasi dan informasi. Aku bisa dengan mudah mengetik sesuatu yang ingin kucari, dan ponsel memberikan banyak informasinya untukku. Informasi itu dapat menambah jangkauan pengetahuanku tentang banyak hal di dunia. Pengetahuan tentang bagaimana cara belajar yang sesuai, waktu belajar,
mempraktekkan ilmuku dalam lingkungan masyarakat, dan banyak lainnya.

Kegiatan belajarku jadi sangat mengasyikkan. Bagaimana Bu, luar biasa, bukan? Selain belajar, aku juga sangat suka bermain dan menyalurkan bakatku. Sebagai seorang gadis, aku mempunyai hobi memasak. Nah, tidak hanya berperan dalam bidang pendidikan, teknologi juga sangat berperan bagiku dalam berkarya. Zaman dahulu, butuh waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan untuk pergi dari satu kota ke kota lainnya. Kini, tak perlu khawatir, teknologi transportasi yang mampu memperpendek jarak antar kota bahkan pulau sangat membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Termasuk diriku, yang kerap kali membutuhkan bahan makanan untuk menyalurkan hobiku, yaitu memasak. Kuliner nusantara begitu beragam, maka dari itu aku
tertarik untuk mempelajarinya. Bagaimana bisa aku mempelajarinya? Ya, benar, dengan bantuan
teknologi. Di era ini, semakin canggih teknologi yang ada, manusia juga kian dituntut untuk terus berinovasi. Sebagai generasi emas Bangsa Indonesia, dan untuk meneruskan perjuangan Ibu Kartini sebagai pahlawan perempuan, aku juga harus terus mengembangkan kreativitas dan menerapkan nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan dan terus berkarya.

Revolusi digital menciptakan banyak peluang yang menjelma menjadi kesempatan besar yang bisa diambil oleh para generasi bangsa. Jam terus berputar, detik demi detik terus berlalu, jika aku membiarkan sang detik berlalu tanpa berbuat dan menghasilkan sesuatu, maka aku bukan putri penerusmu, seorang Raden Ajeng Kartini. Waktuku selalu ku bagi untuk belajar, bermain, dan berkarya. Apa dirimu ingin tahu apa yang aku lakukan untuk tetap berkarya bagi bangsa? Aku selalu menyempatkan diri untuk
menulis.

Ya, menulis, apapun itu. Perlahan, ku awali dengan menulis kegiatan sehari-hariku, lambat laun, aku mencoba menulis cerita yang sesuai keinginanku. Hey, menulis itu sangat seru, tidak ada yang mengetahui rahasiamu selain dirimu dan pena! Aku suka menulis juga terinspirasi oleh dirimu semasa muda yang sering mencurahkan isi hatimu dengan menulis. Hasil dari tulisan-tulisanku sering aku unggah dalam blog.

Apa itu? Blog juga termasuk teknologi yang
mampu menyediakan wadah bagi para penulis seperti diriku untuk menciptakan karyanya. Selain dirimu, ada seseorang yang aku kagumi, dan bagian dari cita-citaku, yaitu petani. Apa yang terlintas di benakmu ketika membacanya? Keren, bukan? Petani adalah sosok yang hebat, ia memberi kebutuhan pangan bagi seluruh masyarakat dengan keringatnya, walaupun terkadang dirinya jarang dipandang. Aku, ingin berkontribusi dalam pertanian Indonesia, memajukan
sektor pertanian dan menciptakan peran teknologi bagi sektor pertanian kita hingga dikenal kancah internasional.“Ketika kita sudah memilih dan memutuskan, perjuangkanlah hingga tercapai”.

Perempuan bisa menjadi apa saja, dan bisa memulai banyak hal dalam genggamannya. Dengan tekad yang kuat, semoga pemerintah dapat lebih memfokuskan dan mengapresiasi petani-petani Indonesia, meningkatkan program bantuan subsidi, tetap mempertahankan lahan pertanian yang ada, dan memberikan dukungan bagi para generasi muda untuk terus berinovasi. Begitulah sepenggal cerita pengalaman dan harapanku, Bu. Terima kasih atas jasa besarmu bagi Bangsa Indonesia. Meski sudah merdeka, namun, bukan berati perjuanganmu terhenti begitu saja. Kami, anak-anakmu akan meneruskan perjuangan untuk melawan setiap tantangan yang
ada. Setiap tantangan di era serba digital ini. Meski nama hanya tinggal sebuah nama, tetapi, jiwa
mu akan terus bersemayam dalam hatiku. Kalau bukan kami, siapa lagi? Kalau tidak sekarang,
kapan lagi?

Penerus perjuanganmu,

Sintya Marwa Dewi

Anak dari pasangan Marjoko dan Mirawati itu memiliki hobi sederhana yaitu, Menggambar, Menulis, Bercerita, dan Traveling, sedangkan untuk kedua adiknya Sindy Marwa Dewi masih berusia 12 tahun dan Sanjaya Marwa Putra berusia 4 tahun. (Eri)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button